proudly presents:

OK. Video FLESH
5th Jakarta International Video Festival 2011

Exhibition / Competition / Discussion / Public Program
6 - 17 October 2011 / National Gallery of Indonesia, Jakarta

Opening:
Thursday, 6 October 2011 | 19.30
at Galeri Nasional Indonesia
Jl Medan Merdeka Timur 14
Jakarta Pusat

Festival:
7 - 17 October 2011
Open Hour: 11.00 - 21.00
Curators: Hafiz, Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani, Mahardhika Yudha & Rizki Lazuardi

Video Out:
29 September - 29 October 2011
at various venues

*check out http://news.okvideofestival.org/video-out/ for further information

INVITATION: OK. Video “FLESH” – SPECIAL SCREENING 25 MUSIC VIDEOS IN INDONESIA (2001-2011) & MUSIC CONCERT

OK. Video FLESH – Jakarta International Video Festival 2011
“Pemutaran Khusus 25 Video Musik Indonesia yang Menginspirasi (2001-2011) dan Konser Musik”


(download flyer: hi-res)

Minggu, 13 November 2011
Pukul 17:00 – 23:00
di Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki
GRATIS!! (18+)

PEMUTARAN KHUSUS
25 Video Musik Indonesia yang Menginspirasi (2001-2011)
Program ini mempersembahkan 25 video musik yang paling menginspirasi dari band dan musisi Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun. Sejumlah video musik terpilih ini memiliki elemen-elemen artistik, kreativitas, dan kecenderungan untuk berbeda dari logika video musik komersil pada umumnya. Karya-karya video musik tersebut menunjukkan kekuatan proses kolaborasi pada tataran audio-visual; musik; penulisan dan gambar; dan membuat kita sadar bahwa video musik bisa menjadi media yang efektif untuk berkomunikasi, serta bisa menjadi sumber inspirasi bagi semua kalangan, khususnya para pemerhati dan penggemar musik, pembuat video dan penonton, atau bagi siapa saja yang tertarik.

Kurator: Indra Ameng
Download: kuratorial_25_music_video (*.doc)

Daftar video yang akan diputar:
- “Selecta Pop” – Club Eighties (Platon, 3’9″, 2001)
- ”Mendekati Surga” – Koil (Xonad/Cerahati, 4’, 2002)
- ”Life Keeps On Turning” – Mocca (Lynda Irawaty, 4’2″, 2006)
- ”Burn” – Brisik (Ari Satria Darma, 1’4″, 2002)
- ”Ode to A Scar” – Anomic Ratrap (Satellite of Love, 3’22″, 2002)
- ”Train Song” – Lain (The Jadugar, 3’16″, 2003)
- ”Modern Bob” – The Upstairs (Syauqi Tuasikal, 3’37″, 2004)
- ”Celaka” – Kronchonk Chaos (Aswan Tantra, 5’58″, 2004)
- ”Taste of Harmony” – Homogenic (Cerahati, 3’47’’, 2004)
- ”A.S.T.U.R.O.B.O.T.” – Goodnight Electric (Anggun Priambodo, 3’51″, 2005)
- ”Eksploitasi” – Teknoshit (Eddy Cahyono, 4’20″, 2002)
- ”Lihat” – SORE (Zeke Khaseli & Ramondo Gascaro, 4’57″, 2005)
- ”Lingkar Labirin” – The Brandals (Aksara Record: The Jadugar, 3’53″, 2004)
- ”Serigala Militia” – Seringai (Tromarama, 4’32″, 2006)
- ”Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia – Naif (The Jadugar, 3’53″, 2003)
- ”Detektif Flamboyan – C’mon Lennon (Henry Foundation, 4’, 2004)
- ”Absolute Beginner Terror” – Teenage Death Star (Anggun Priambodo, 2’26″, 2007)
- ”Mighty Love” – Zeke & The Popo (Bian Dwijo, 4’30″, 2008)
- ”Menulis Lagu Cinta” – Bite (Heytuta, 3’52, 2009)
- ”Banyak Asap Disana” – Efek Rumah Kaca (Hubert Famosando dan Wolfgang Xemandros, 4’28″, 2009)
- ”Amerika” – Armada Racun (Armada Racun, Hyde Project dan Batu&Gunting, 2’32″, 2011)
- ”Wanderlust” – Santa Monica (Dibyokusumo Hadipamenang, R Hatumena dan Anton Ismael, 4’25″, 2007)
- ”Mesin Penenun Hujan” – Frau (Nana Miyagi & Dolly Rosseno, 3’3″, 2010)
- ”Jakarta Motor City” – Sir Dandy (Tandun, 4’24″, 2011)
- “Ode Buat Kota” – Bangku Taman (Anggun Priambodo, 4’2″, 2010)

KONSER MUSIK
Bersama: The Upstairs, Bangkutaman, dan White Shoes & The Couples Company.

BAZAAR
Menawarkan produk-produk unik dan kreatif, ditambah art work karya seniman-seniman kontemporer muda, antara lain: Komunitas Pecinta Kertas (KPK), Gardu House (street art), ruru shop (ruangrupa artist initiative), Ika Vantiani (handmade art works), Jakarta 32°C (komplotan mahasiswa Jakarta), dan sebagainya.

PAMERAN
“GIF Festival”
Sebagai bagian dari OK Video FLESH tahun ini, GIF Festival mempresentasikan karya-karya video animasi minimalis karya animator muda lokal dengan menggunakan gif sebagai format datanya.

GIF (Graphics Interchange Format, diperkenalkan pertamakali oleh CompuServe pada pertengahan 80’an) merupakan salahsatu ekstensi terunik yang pernah ada. Unik; karena sangat melegenda, muncul dan dimanfaatkan oleh hampir semua pengguna perangkat digital, ..namun sangat sedikit yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam, atau bahkan sekedar mencoba membuat hal yang sama menggunakan ekstensi ini. Kehadirannya-pun nyaris tidak mendapat banyak perhatian. Penuh keterbatasan dan bukan sesuatu yang layak dijadikan kebutuhan masif pengguna perangkat digital.

Kurator: oomleo
Download: kuratorial_gif_festival (*.doc)

“Video Mapping”
Sebuah teknik menciptakan ilusi optik dengan memproyeksikan gambar di atas obyek-obyek yang berbeda dengan grafik video digital.
Seniman: Ricky Baybay Janitra, Chiefy Flickerscreen, Abi Rama.

AREA BALKON:
Pertunjukan musik oleh Sir Dandy and Hightime Rebellion.

 

===
Untuk info lebih lanjut silakan kontak e-mail kami di: info@ruangrupa.org. Kunjungi  okvideofestival.org dan follow kami di twitter.com/ok_video. Kunjungi pula ruangrupa.org dan gabung di grup Facebook ruangrupa serta follow ruangrupa di twitter.com/ruangrupa.

UPDATE: IMAGE DOCUMENTATION!

visit:
http://news.okvideofestival.org/releases/

FRINGE PRESENTATION (LAF)

LAF cordially invite you to:

OK. VIDEO FLESH
Fringe Presentations at LAF

Day 1. 21 OCTOBER 2011
11:00 – 19:00
Reinaart Vanhoe’s open studio

Day 2. 22 OCTOBER 2011
11:00 – 19:00
Reinaart Vanhoe’s open studio (viewing only)

19:00 – 20:00
Film Screening: “Er ligt een video in de soep”, directed by: Stefaan Decostere (1983)

20:00 – 22:00
Reinaart Vanhoe’s artist talk & discussion

Day 3. 23 OCTOBER 2011
11:00 – 19:00
Vincent Moon’s open studio

19:00 – 21:00
Vincent Moon’s artist talk and discussion

Day 4. 24 OCTOBER 2011
11:00 – 19:00
Vincent Moon’s open studio (viewing only)

 

All public programs will be held at LAF, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta.
For further info, please contact Ms. Ditya at 081215500083
or, at info[at]langgengfoundation[dot]org

(REVIEW) DAY#11

GIF Festival 2011

 

GIF Festival adalah pameran seni rupa kontemporer tentang gambar (frame) bergerak atau yang biasa disebut dengan animasi sederhana (animated gif). Penjelasan sederahana itulah yang akan kita dapatkan ketika kita melihat salah satu monitor di ruangan serba guna (bangsal) Galeri Nasional Indonesia. Bisa dikatakan, GIF Festival 2011 ini merupakan sebuah pameran yang berada di dalam sebuah pameran, yaitu OK. Video FLESH 2011.

Pameran ini menampilkan puluhan karya seni rupa dalam bentuk digital, mengunakan format GIF (Graphic Interchange Format). GIF pertama kali diperkenalkan oleh CompuServe pada tahun 1987. Ekstensi file GIF memiliki ukuran yang relatif kecil, memiliki fungsi sebagai gambar yang bisa bergerak maupun statis dan sering kita jumpai pada halaman-halaman website di dunia maya. Dalam GIF Festival 2011 ini, oomleo selaku kurator mengajak para seniman muda kekinian untuk bereksperimen membuat gambar bergerak dengan ekstensi file benama GIF. Tidak kurang dari 100 karya dari 56 seniman ditampilkan dalam bagian ini. Selain dalam OK. Video FLESH, karya-karya GIF Festival 2011 ini juga bisa kita lihat di blog resminya yaitu http://giffestival.tumblr.com

Meskipun hari ini, 17 Oktober 2011 merupakan hari terakhir gelaran OK. Video FLESH di Galeri Nasional Indonesia, namun masih ada beberapa program Video Out OK. Video FLESH yang akan berlangsung hingga tanggal 29 Oktober 2011. Beberapa tempat yang menjadi venue Video Out ini ialah Japan Foundation, RURU Gallery, Artsphere, vivi yip art room, LINGGARseni serta Kineforum.

- Asep Topan

(INVITATION) “UNDERDEVELOPED”

Undangan Menghadiri Diskusi UNDERDEVELOPED di ruangrupa

Sebagai rangkaian dari pameran video dan instalasi UNDERDEVELOPED yang sudah berlangsung di RURU Gallery sejak tanggal 7 Oktober 2011, ruangrupa mengundang untuk mengikuti diskusi yang akan membahas mengenai program tersebut.

Diskusi ini menghadirkan Reinaart Vanhoe, seorang seniman asal Belgia yang menjadi penggagas program pameran ini.

Diksusi akan dilaksanakan pada:

Hari: Selasa, 18 Oktober 2011
Pukul: 14:00 – selesai
Tempat: ruangrupa, Jln. Tebet Timur Dalam Raya no.6, Jakarta Selatan

Presentasi oleh Reinaart Vanhoe akan berlangsung dalam bahasa Inggris dan diselingi dengan terjemahan dalam Bahasa Indonesia.

UNDERDEVELOPED adalah pameran video dan instalasi yang berusaha mengindentifikasi citraan yang terus mengalami pembentukan dan menjadi bagian dari pengalaman visual kita yang sangat kompleks dan terjadi sehari-hari.

Program ini merupakan bagian dari OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi ruangrupa di:

t/f: +62.(0).21.830.4220
e: info@ruangrupa.org
w: http://ruangrupa.org

(REVIEW) DAY#10

Apichatpong Weerasethakul – Phantoms of Nabua

Phantoms of Nabua ialah sebuah film pendek karya Apichatpong Weerasethakul, dibuat pada tahun 2009 dengan durasi selama 10 menit 56 detik. Phantoms of Nabua menggambarkan sebuah tempat dengan cahaya lampu neon. Lalu terdapat sebuah layar putih yang memperlihatkan sebuah tempat berulangkali di sambar oleh petir pada malam hari. Beberapa orang laki-laki bermain bola api tepat di depan layar tersebut, di bawah lampu neon tadi. Mereka bermain bola api, meninggalkan jejak api yang membakar rerumputan, menendang ke atas dan akhirnya membakar layar putih tersebut. Pandangan mereka serentak tertuju pada kain layar yang terbakar.

Phantoms of Nabua dibuat di desa Nabua, sebuah desa kecil yang tenang di timur laut Thailand. Kebanyakan warga Nabua merupakan petani yang samasekali tidak tertarik dengan permasalahan politik. Namun, diantara tahun 1960 sampai tahun 1980-an Nabua dicurigai sebagai tempat para simpatisan komunis, sehingga berada di bawah kontrol militer yang sangat ketat pada tahun-tahun tersebut. Para petani yang menolak dan melawan sikap pemerintah ini kemudian diserang dan dibunuh tanpa sebab oleh tentara dan mereka yang selamat diusir ke hutan.

Nabua juga memiliki legenda tua yang bercerita tentang hantu janda yang kerap menculik pria dan membawa mereka ke dunia lain. Apichatpong Weerasethakul menggunakan mitos ini untuk mengatakan sesuatu yang lebih luas lagi, terkait dengan peristiwa kemanusiaan yang menimpa daerah ini di masa lalu. Phantoms of Nabua merupakan simbolisasi pembebasan jiwa para lelaki yang menjadi korban di wilayah tersebut.

Apichatpong Weerasethakul ialah seniman kelahiran Bangkok, pada tahun 1970. Karya-karyanya telah banyak mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Filmnya yang berjudul Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives diganjar meraih Palme d’Or pada Cannes Film Festival 2010 serta Syndromes and a Century diputar pada gelaran Venice Film Festival ke-63 dan merupakan film Thailand pertama yang masuk dalam kompetisi tersebut.

- Asep Topan

(REVIEW) DAY#9

  

Dalam serangkaian program Video Out - OK. Video FLESH 2011, tanggal 15 Oktober 2011 diadakan pemutaran salah satu film karya Vincent Moon berjudul Burning, di Kineforum. Selain oleh Vincent Moon, film buatan tahun 2009 ini juga disutradarai oleh Nat le Scouarnec yang sama-sama berasal dari Paris. Burning merupakan film dokumenter yang merekam pertunjukan live band Post-Rock asal Skotlandia, Mogwai.

Film ini dibuat oleh Vincent Moon dan Nat le Scouarnec tepatnya pada bulan April 2009, ketika Mogwai live performing di Music Hall of Williamsburg, Brooklyn, NY. Dalam Burning, kita bisa melihat bagaimana Moon dan Scouarnec mampu merekam momen paling  berkesan dalam sebuah pertunjukan live. Dengan durasi selama 48 menitMoon dan Scouarnec menggunakan efek hitam-putih pada keseluruhan film ini dari awal hingga akhir. Kesan kontras, bayangan serta cahaya begitu menonjol dalam film ini, selaras dengan tipikal musik Mogwai yaitu instrumental berbasis alunan gitar yang panjang, dipadukan dengan penggunaan efek dan distorsi yang berat dan kontras. Burning dapat menunjukan kepada kita bahwa sebuah film dokumenter live band bisa memiliki nilai artistik yang sangat tinggi, berbeda dengan rekaman live band pada umumnya yang cenderung seragam.

Selain bersama Mogwai, Vincent Moon bersama rekannya Chryde juga membuat project berupa serial dokumenter di ruang terbuka di lokasi-lokasi yang tak terduga bersama musisi/band lainnya. Project ini dinamai the Take Away Show Project, La Blogotheque’s video podcast dan sejak tahun 2006 telah membuat lebih dari 120 video musik bersama band/musisi seperti Liars, R.E.M., Arcade Fire, Tom Jones, The Ex, De Kift, Stephen Malkmus, Scout Niblett, Sigur Rós, Caribou, Vic Chesnutt, Architecture in Helsinki, The National, The Shins, Andrew Bird, Okkervil River, Xiu Xiu,Sufjan Stevens, dan David Bazan.

Selain pemutaran karya-karya Vincent Moon di Kineforum, di hari ke-9 OK Video FLESH 2011, juga berlangsung dua program video out, yaitu Focus on Anggun Priambodo di Vivi Yip Art Room, Warung Buncit dan Focus on Prilla Tania di Linggar Seni Kemang. Program Focus on Anggun Priambodo menghadirkan karya-karya Anggun yang terdiri dari sejumlah video, antara lain video music lagu milik band Bangku Taman, Ode Buat Kota. Sementara program Focus on Prilla Tania di Linggar Seni memutar sejumlah karya-karya video Prilla yang menggunakan teknik stop motion, antara lain Space Within Time, sebuah video series yang ia kerjakan dalam kurun waktu 2008-2009.

Asep Topan & Mirwan Andan

(REVIEW) DAY#8

  

Digital viral adalah sebuah eksperimentasi untuk melihat dari sudut pandang lain pergerakan video di ranah virtual yang kian menggejala dalam beberapa tahun terakhir[1]. Setiap karya video dengan tema Digital Viral dalam OK. Video FLESH ini bisa kita lihatt dengan bentuk persentasi yang berbeda dengan karya video lainnya. Ratusan video disebar di gedung A dan B Galeri Nasional Indonesia dalam puluhan layar kecil, melalui alat pemutar musik dan video (iPod).

Melalui Digital Viral, kita bisa melihat adanya pergeseran fungsi dari internet dan video-sharing yang pada awalnya merupakan sarana hiburan dan media sosialisasi semata. Dewasa ini, video bisa menjadi alat untuk mempromosikan diri serta menjadi bukti beberapa kasus skandal seks dan politik. Bebeberapa karya video dalam tema Digital Viral memperlihatkan bagaimana semua orang bisa menikmati dan memanfaatkan kebebasan yang ditawarkan oleh teknologi, mengaktualisasikan diri mereka dalam sebuah video dan menyebarkannya melalui internet.

Tim kuratorial untuk Digital Viral OK. Video FLESH 2011 menetapkan 26 tema video berdasarkan isu yang dominan dan dapat mewakili gejala serta fungsi penggunaan video di internet oleh masyarakat Indonesia sekarang ini. Tema tersebut ialah Spoof Politik, Spoof Musik, Spoof Film, Gender, Kecelakaan, Hoax, Idol, Talent Show, Selebriti mainstream, Selebriti Viral, Aktivisme, Hack, Science, Leaks, Pesan Moral, Supranatural-Klenik, How-to, Olahraga, Jenius Lokal, Eksperimentasi, Plurarisme, Religi, Lipsync dan Million Viewers.[2]

Pembagian tema di atas memungkinkan kita menemukan video yang bisa memberikan kesan berbeda-beda, mulai dari video yang sangat menghibur, mengharukan bahkan menakutkan. Selain dipersentasikan dengan puluhan unit layar kecil, video-video ini dilengkapi juga dengan maskot virus bernama FLESHY untuk membedakannya dari sesi kuratorial lain.

- Asep Topan

[1] Wardani, Farah: “Digital Viral: Sebuah Diagnosa Singkat”, Katalog OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival, 2011. Hlm. 134.

[2] Wardani, Farah: “Digital Viral: Sebuah Diagnosa Singkat”, Katalog OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival, 2011. Hlm. 136.

(REVIEW) DAY#7

Araya Rasdjarmrearnsook – The Class (2005)

The Class (2005) ialah video karya seniman perempuan asal Thailand, Araya Rasdjarmrearnsook. Dalam video berdurasi 6 menit 3 detik ini, Araya melakukan performans dengan berperan menjadi seorang guru. Ia mengajar, menulis di papan tulis, menerangkan pelajaran dengan buku di tangannya dan berinteraksi secara langsung kepada enam sosok mayat sebagai muridnya. Pelajaran yang ia terangkan kepada enam sosok muridnya ialah tentang kematian. Melalui karya ini, Araya menampilkan sebuah tontonan yang dapat membuat kita bertanya: apakah kematian itu sesungguhnya? Mungkin hanya murid-murid Araya yang tahu persis apa kematian dalam video tersebut, bukan hanya karena telah dijelaskan oleh Araya, bahkan secara langsung mereka telah mengalaminya. Dengan performansnya ini, ia juga membuat kita berpikir bahwa sesungguhnya kehidupan dan kematian tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang berlawanan.

Araya Rasdjarmrearnsook merupakan seniman kelahiran Trad, Thailand pada 26 Juli 1957. Ia mendapatkan gelar Master of Fine Arts dalam bidang Seni Grafis (printmaking) dari Silpakorn University, Bangkok pada tahun 1986. Saat ini ia tinggal dan bekerja di Chiang Mai, Thailand. Pada tahun 2005, karyanya terpilih mewakili Thailand untuk Venice Biennale ke-51. Araya juga berpartisipasi dalam Gwangju Biennale dan Taipei Biennale.

Bersama dengan video seniman-seniman lainnya seperti Vito Acconci, Melati Suryodarmo, Joan Jonas, dll., The Class merupakan karya Araya dalam OK. Video FLESH dengan tema [in]corporeal. Pameran ini berupaya memperlihatkan sample pendekatan artistik dalam seni performans yang dilakukan dengan video. Disini terlihat bagaimana eksplorasi seniman-seniman dalam pameran ini tidak hanya dibatasi oleh sifat-sifat fisikal dan non fisikal tubuh, tapi juga berbagai kelebihan dan keterbatasan yang ada dalam teknologi video.

-Asep Topan

(REVIEW) DAY#6

Review OK Video FLESH 2011, Hari Ke-6:
Video Out dan Artist’ Talk di d Gallerie, Presentasi Sebastian Diaz Moralles di Binus dan sekilas tentang karya Marina Abramović: “Art Must Be Beautiful, Artist Must Be Beautiful”

Tepat di ujung ruangan gedung C Galeri Nasional Indonesia, terpajang karya video performans Marina Abramović dengan judul Art Must Be Beautiful, Artist Must Be Beautiful (1975). Marina Abramović merupakan seniman performans asal Amerika kelahiran Belgrade, Yugoslavia (sekarang menjadi negara Serbia) pada tahun 1946 dan memulai karirnya sebagai seniman performans pada awal tahun 1970-an.

Dalam “Art Must Be Beautiful”, kita dapat melihat Marina dengan agresif menyisir rambutnya yang panjang menggunakan sisir pada kedua tangannya. Sementara itu, mulutnya terus mengucapkan kalimat “Art Must Be Beautiful, Artist Must Be Beautiful”.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa wajah Marina memperlihatkan ekspresi kesakitan terhadap apa yang dia lakukan dengan rambut panjangnya. Marina memperlihatkan dirinya memaksa untuk menjadi cantik, meskipun harus  merasakan sakit karena usahanya sendiri untuk terlihat cantik. Dengan sangat jelas, melalui karya ini Marina menyampaikan bahwa seni yang terlihat indah, bisa pula menjadi sumber rasa sakit, seperti kita lihat dalam video performans berdurasi 14 menit 15 detik ini. Namun, 24 tahun kemudian, dalam sebuah wawancara dengan Janet A. Kaplan, Marina berkata lain mengenai karyanya ini: ‘A long time ago I made a piece called “Art must be Beautiful, Artist must be Beautiful”. At that time, I thought that art should be disturbing rather than beautiful. But at my age now, I have started thinking that beauty is not so bad.’

Layaknya seorang seniman performans, ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai medium ekspresi seni yang kemudian diabadikan dalam alat perekam, menjadikannya sebuah karya video performans. Mengenai karya video performans ini, Agung Hujatnikajennong mengungkapkan dalam catatan kuratorialnya untuk OK. Video FLESH 2011 bahwa hubungan antara seniman performans dan kamera bersifat langsung. Kamera, dalam hal ini, menggantikan kehadiran publik.

Sementara itu, di d Gallerie (Jln. Barito I, #3 – Kebayoran Baru), hari ini, Rabu, 12 Oktober 2011, berlangsung screening kompilasi 10 Years of Indonesian Video Art dari jam 09:00-21:00, yang diselingi  dengan artist’ talk pada pukul 16:00 dengan menghadirkan Ade Darmawan, Anggun Priambodo, Henry Foundation dan Hafiz. Keempat pembicara tersebut memaparkan karya-karya video mereka yang masuk dalam kompilasi 10 Years of Indonesian Video Art yang antara lain: Philosopher Football Match (Ade Darmawan), Crash dan Sinema Elektronik (Anggun Priambodo), One Hour Set, Various (Henry Foundation), dan Alam: Syuhada (Hafiz).

Hari ini juga, pada pukul 13:00-15:00 di The Joseph Wibowo Center for Advanced Learning Centre (Binus International Film School), public program OK Video Flesh 2011 menghadirkan Sebastian Diaz Moralles (filmmaker/video artist dari Argentina), untuk berpresentasi dan berdiskusi mengenai  karya-karyanya mulai dari karyanya El Camino Entre dos Puntos sampai  karyanya yang ikut mengambil bagian dalam OK Video kali ini yang berjudul Ring: The Means Of Illusion dan proses kreatifnya. Presentasi dan diskusi di Binus ini dipandu oleh Ekky Imanjaya, pengajar di Binus dan pengelola rumahfilm.org.

- Asep Topan & Mirwan Andan