(REVIEW) DAY#6
Review OK Video FLESH 2011, Hari Ke-6:
Video Out dan Artist’ Talk di d Gallerie, Presentasi Sebastian Diaz Moralles di Binus dan sekilas tentang karya Marina Abramović: “Art Must Be Beautiful, Artist Must Be Beautiful”
Tepat di ujung ruangan gedung C Galeri Nasional Indonesia, terpajang karya video performans Marina Abramović dengan judul Art Must Be Beautiful, Artist Must Be Beautiful (1975). Marina Abramović merupakan seniman performans asal Amerika kelahiran Belgrade, Yugoslavia (sekarang menjadi negara Serbia) pada tahun 1946 dan memulai karirnya sebagai seniman performans pada awal tahun 1970-an.
Dalam “Art Must Be Beautiful”, kita dapat melihat Marina dengan agresif menyisir rambutnya yang panjang menggunakan sisir pada kedua tangannya. Sementara itu, mulutnya terus mengucapkan kalimat “Art Must Be Beautiful, Artist Must Be Beautiful”.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa wajah Marina memperlihatkan ekspresi kesakitan terhadap apa yang dia lakukan dengan rambut panjangnya. Marina memperlihatkan dirinya memaksa untuk menjadi cantik, meskipun harus merasakan sakit karena usahanya sendiri untuk terlihat cantik. Dengan sangat jelas, melalui karya ini Marina menyampaikan bahwa seni yang terlihat indah, bisa pula menjadi sumber rasa sakit, seperti kita lihat dalam video performans berdurasi 14 menit 15 detik ini. Namun, 24 tahun kemudian, dalam sebuah wawancara dengan Janet A. Kaplan, Marina berkata lain mengenai karyanya ini: ‘A long time ago I made a piece called “Art must be Beautiful, Artist must be Beautiful”. At that time, I thought that art should be disturbing rather than beautiful. But at my age now, I have started thinking that beauty is not so bad.’
Layaknya seorang seniman performans, ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai medium ekspresi seni yang kemudian diabadikan dalam alat perekam, menjadikannya sebuah karya video performans. Mengenai karya video performans ini, Agung Hujatnikajennong mengungkapkan dalam catatan kuratorialnya untuk OK. Video FLESH 2011 bahwa hubungan antara seniman performans dan kamera bersifat langsung. Kamera, dalam hal ini, menggantikan kehadiran publik.
Sementara itu, di d Gallerie (Jln. Barito I, #3 – Kebayoran Baru), hari ini, Rabu, 12 Oktober 2011, berlangsung screening kompilasi 10 Years of Indonesian Video Art dari jam 09:00-21:00, yang diselingi dengan artist’ talk pada pukul 16:00 dengan menghadirkan Ade Darmawan, Anggun Priambodo, Henry Foundation dan Hafiz. Keempat pembicara tersebut memaparkan karya-karya video mereka yang masuk dalam kompilasi 10 Years of Indonesian Video Art yang antara lain: Philosopher Football Match (Ade Darmawan), Crash dan Sinema Elektronik (Anggun Priambodo), One Hour Set, Various (Henry Foundation), dan Alam: Syuhada (Hafiz).
Hari ini juga, pada pukul 13:00-15:00 di The Joseph Wibowo Center for Advanced Learning Centre (Binus International Film School), public program OK Video Flesh 2011 menghadirkan Sebastian Diaz Moralles (filmmaker/video artist dari Argentina), untuk berpresentasi dan berdiskusi mengenai karya-karyanya mulai dari karyanya El Camino Entre dos Puntos sampai karyanya yang ikut mengambil bagian dalam OK Video kali ini yang berjudul Ring: The Means Of Illusion dan proses kreatifnya. Presentasi dan diskusi di Binus ini dipandu oleh Ekky Imanjaya, pengajar di Binus dan pengelola rumahfilm.org.
- Asep Topan & Mirwan Andan

