TODAY’S SPECIAL
OK. Video – FLESH
5th Jakarta International Video Festival
TODAY’S SPECIAL
Wednesday, 12 October 2011
Interconnection: Exploring the Visual Language of Video Art and Cinema
Video Presentation & Discussion with Sebastian Diaz Morales
at Binus International School
The Joseph Wibowo Center for Advanced Learning R310
Jln. Hang Lekir I no. 6, Senayan
13:00 – 15:00
Free limited seats!
Artist Talk 10 Years of Indonesian Video Arts Compilation
With: Ade Darmawan, Anggun Priambodo, Henry Foundation
at d Gallerie
Jln. Barito I No. 3, Kebayoran Baru
16.00 – 18:00
Exhibition: 10 – 17 October | 09:00 – 21:00
Opening Video Out: Focus on Sebastian Diaz Morales
at Artsphere
Dharmawangsa Square Lt. 2 Unit 17
Jln. Darmawangsa VI & IX
18:00
Exhibition: 2 – 22 October | 10:00 – 17:00
OK. Video FLESH – 5th Jakarta International Video Festival
is still running at Galeri Nasional Indonesia until 17 October 2011.
Open Hours: 11.00 – 21.00.
Come and see four special presentations which each was curated by:
Hafiz, Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani, Mahardika Yudha & Rizki Lazuardi,
and a guest presentation curated by Langgeng Art Foundation.
For more details about OK. Video FLESH please visit www.okvideofestival.org and follow us on twitter.com/OK_Video.
Please also visit www.ruangrupa.org, join our group on Facebook, and follow ruangrupa on twitter.com/ruangrupa.
(REVIEW) VIDEO SCREENING WITH MEIRO KOIZUMI
Di Selasar Sunaryo Art Space, 8 Oktober 2011, seniman asal Jepang Meiro Koizumi mempresentasikan beberapa karya videonya sebagai bagian dari rangkaian Public Program OK. Video FLESH. Dimulai jam 10 pagi dengan iringan gerimis kota Bandung, tidak kurang dari 40 orang menghadiri presentasi Meiro di Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space bersama Agung Hujatnikajennong sebagai moderator.
Meiro menjelaskan karyanya mulai dari sumber ide, proses pembuatan hingga apa saja yang ingin ia sampaikan. Karya pertama yang ia jelaskan ialah The Chair, karya ini berdurasi 3 menit 36 detik, dibuat pada tahun 2000. Ia menjelaskan bahwa karya ini berawal ketika ia membuat sketsa dengan pensilnya, kemudian menghasilkan suara goresan pensil yang menjadi ide dasar penciptaan karya tersebut. Pada The Chair, Meiro melakukan performance dengan melakukan gerakan-gerakan orang menggambar menggunakan pensil diatas objek sebuah kursi. Suara pensil yang kerap terdengar ketika menggambar ia tiru dengan mulutnya dengan bantuan pengeras suara, sehingga menghasilkan suara goresan pensil yang ia inginkan. Meiro menyebutkan bahwa suara yang ia keluarkan sangat sentimental dan mampu menghasilkan emosi yang luar biasa. Bukan hanya pada The Chair, kecenderungan Meiro bereksplorasi dengan elemen suara juga hadir dalam karyanya yang lain seperti Amazing Grace (2001) dan Untitled (2000).
Selain suara, terdapat beberapa karya Meiro yang lebih bereksplorasi pada aspek narasi. Karya berjudul Mum (2003) merupakan contoh karya naratifnya, selain Portrait of the Young Samurai (2009). Pada karya Mum, Meiro melakukan performance dengan menghubungi ibunya melalui telepon selular di sebuah ruangan. Diiringi musik yang menimbulkan kesan dramatis, ia hanya mengatakan kepada ibunya mengenai keadaanya dirinya yang sedang berada di medan perang. Suara letusan bom serta senjata api ia ciptakan dengan mulutnya sendiri, juga dengan bantuan pengeras suara. Namun pada Portrait of the Young Samurai, Meiro menampilkan kesan lain dari sebuah narasi yang dramatis. Kesan ini terbentuk karena dalam karya video ini ia menampilkan proses pembuatan video secara keseluruhan sehingga membuat penonton tertawa melihat talent dalam video ini yang berulang kali mengatakan hal sama, beberapa kalimat terakhir untuk orang tuanya, sebelum ia berangkat ke medan perang sebagai kamikaze dengan semangat samurai.
Setelah melihat beberapa karya Meiro Koizumi, dapat dikatakan bahwa karya-karyanya merupakan gabungan antara video art dan performance art, atau biasa disebut sebagai karya video performance. Dengan kata lain, Meiro telah mengangkat bagaimana tubuh merespon teknologi pada setiap karyanya.
Presentasi Meiro diselingi dengan istirahat yang dilanjutkan dengan diskusi bersama peserta dan banyak pertanyaan-pertanyaan bermunculan yang berkisar tentang proses kreatifnya. Selain public speech dan screening karya-karya Meiro pada 8 Oktober 2011, OK Video Flesh 2011 dan Selasar Sunaryo juga menggelar workshop video making dengan peserta terbatas pada 9 Oktober 2011 dengan Meiro sebagai mentor.
Sumber foto: http://meirokoizumi.com
– Asep Topan, 10/10/2011
(REVIEW) SEBASTIAN DIAZ MORALES: RING (THE MEANS OF ILLUSION)
Pada OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 201, Sebastian Diaz Morales menampilkan karya video instalasi berjudul Ring (The Means of Illusion). Karya ini merupakan salah satu karya yang mampu mencuri banyak perhatian pengunjung pada gelaran OK.Video FLESH. Selain letaknya di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, Ring (The Means of Illusion) juga terdiri dari empat buah saluran proyektor, sehingga membutuhkan tempat yang sangat luas. Karya ini dibuat antara tahun 2006 sampai 2007. Video ini dimulai dengan memperlihatkan kedua mata dan melakukan beberapa kali kedipan. Setelah itu, gambaran yang tampak ialah sebuah lanskap gurun, memberikan kesan tenang, dilanjutkan dengan adegan orang bermain tinju di atas ring yang memberikan kesan sebaliknya. Selain itu, video dengan durasi 12 menit ini menampilkan rekaman orang-orang berdemonstrasi.
Melalui Ring (The Means of Illusion), Sebastian Diaz Morales menampilkan bahwa kekerasan dewasa ini dipentaskan sebagai sebuah tontonan, seperti pada pertandingan tinju dan kumpulan demonstran. Sebastian mengubah materi video asli menjadi gambaran yang didominasi warna hitam dengan efek garis putih sebagai penanda bentuk. Efek garis ini juga terlihat dalam karya lain Sebastian seperti Lucharemos hasta anular la ley buatan tahun 2005. Dalam Ring (The Means of Illusion), Sebastian terlihat tidak menyuguhkan sebuah cerita, namun karya ini merupakan gabungan pembacaan visual dari sebuah kekerasan.
Sebastian Diaz Morales merupakan seniman kelahiran Comodoro Rivadavia, Argentina, pada tahun 1975. Saat ini aktif berkarya di Amsterdam, Belanda dan Comodoro Rivadavia, Argentina. Dalam OK.Video FLESH ia khusus datang ke Jakarta jauh-jauh dari Belanda, tempatnya saat ini tinggal bersama keluarga.
– Asep Topan, 9/10/2011
OPENING CEREMONY! (VIDEO)
..thanks to ARGADEWANTO!
(REVIEW) CURATOR’S & ARTIST’ TALK – AGUNG HUJATNIKAJENNONG
Diantara serangkaian program OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 yang berlangsung mulai tanggal 7-17 Oktober di Galeri Nasional Indonesia, OK. Video Flesh juga mengadakan sesi Curator’s and Artist’ Talk dengan pembicara pada hari pertama, 7 Oktober ini ialah Agung Hujatnikajennong. Dimulai pada pukul 14.30 di gedung C – Galeri Nasional Indonesia, Curator’s and Artist’t Talk ini diikuti oleh 15 orang dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, jurnalis dan siswa SMA. Agung Hujatnikajenong mengatakan bahwa pengertian seni video, secara garis besar ialah sebuah ekspresi seni yang dibuat dengan medium video. Kemunculan seni video berawal mulai tahun 60-an, ketika Sony mengeluarkan produknya Sony Portapak ke pasaran. Sony Portapak merupakan alat perekam video pertama yang bisa digunakan oleh satu orang, karena sebelumnya alat perekam video membutuhkan banyak orang untuk mengoperasikannya. Dengan alat ini pula, kebiasaan masyarakat mulai berubah dan seniman saat itu mulai merespon bagaimana menyikapi perkembangan teknologi dalam proses berkarya mereka.
Agung Hujatnikajenong menjelaskan bahwa pameran OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 mencoba mengangkat respon tubuh kita terhadap perubahan teknologi, dalam hal ini ialah medium video. Lebih jelas lagi ia memberikan beberapa contoh langsung dan menjelaskan video yang dipamerkan di ruangan tersebut. Beberapa karya yang menjadi fokus Agung Hujatnikajenong ialah karya-karya dari Arahmaiani, Bill Viola dan Marina Abramović. Ia juga memaparkan bahwa seni video kerap bersinggungan dengan performance art, sehingga memunculkan jenis seni baru, yaitu video performance. Selain di Galeri Nasional Indonesia, rangkaian acara dalam OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 juga diadakan di The Japan Foundation Jakarta, sebuah public program dengan nama Video Out yang pada hari ini difokuskan pada Vincent Moon, seniman video asal Perancis.
– Asep Topan, 8/10/2011
ANNOUNCEMENT: “3 BEST VIDEO” (OK. VIDEO FLESH – SUBMISSION)
OK. Video has announced 3 Best Video work that has been submitted at FLESH festival. Biggest – deepest RESPECT from OK. Video FLESH to all of these 3 videos, and the artists:
- Bryan Lauch & Petra Pokos | USA / Slovenia | “SEVEN SHORTS”
- Giada Ghiringhelli | Switzerland | “NEWLY RISEN DECAY”
- M.R. Adytama Pranada | Indonesia | “ONE EVENING AT NY GENTLEMAN’S CLUB (EXISTING MEMOIR-EXISTING BEING; SERIES)”
..zillion thank you very-very much!
(REVIEW) OPENING: OK. VIDEO “FLESH” 5th JAKARTA INTERNATIONAL VIDEO FESTIVAL 2011
(Dirangkum oleh: Asep Topan)
Lebih kurang jam setengah sembilan malam, Bapak Tubagus ‘Andre’ Sukmana selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia membuka pameran OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011 tepat di depan pintu masuk gedung A (gedung utama) Galeri Nasional Indonesia. Sebelumnya, acara telah dimulai dengan visual mapping oleh Flicker Screen & Ricky ‘Baybay’ Janitra serta lantunan lagu-lagu dangdut gerobak ibukota yang mampu mencuri perhatian sekitar 700-an orang pengunjung di sisi kanan gedung utama Galeri Nasional Indonesia.
Dengan latar visual mapping, MC pada malam ini yaitu oomleo dan Nastasha Abigail memulai acara pembukaan OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011. Penyampaian ucapan terimakasih kepada beberapa pendukung acara dan media partner dilanjutkan dengan sambutan pameran OK. Video FLESH oleh Hafiz selaku kurator dan Artistic Director. Dalam sambutan kuratorialnya, Hafiz menyampaikan bahwa dalam konteks estetika seni video, metafora daging (flesh) secara material, ia terjemahkan dengan ‘melihat daging sejarah seni video’. Untuk itu pada gelaran OK. Video kali ini dimensi sejarah estetika seni video dimunculkan. Dengan demikian, bagaimana ‘daging’ seni video ini tumbuh dalam peta seni rupa dunia dapat dibaca dalam festival kali ini. Di dalamnya ada persinggungan antara seni video dengan filem, seni konseptual, seni performans, dan praktik-praktik seni lainnya. Setelah selesai menyampaikan sambutannya, Hafiz kemudian memperkenalkan kurator lainnya yaitu Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani, Mahardhika Yudha & Rizki Lazuardi serta semua seniman video yang berpartisipasi dalam festival kali ini kepada para pengunjung.
Adapun pengumuman tiga karya terbaik dari Open Submission festival kali ini disampaikan oleh Bapak Tubagus ‘Andre’ Sukmana, dilanjutkan dengan pembukaan pameran untuk mempersilahkan pengunjung memasuki Galeri Nasional Indonesia dan menikmati gelaran OK. Video FLESH 5th Jakarta International Video Festival 2011. Tiga karya yang dinyatakan terbaik dari Open Submission OK. Video ke-5 ini berjudul Seven Shorts (Bryan Lauch dan Petra Pokos/Slovenia) , Newly Risen Decay (Giada Ghiringhelli/Switzerland) serta One Evening at NY Gentleman’s Club (M.R. Adytama Pranada/Indonesia).
Dalam pembukaan hari ini, 6 Oktober 2011, Galeri Nasional Indonesia membuka semua gedung yang digunakan untuk OK. Video FLESH ini –meliputi gedung A (utama), gedung B, gedung C serta gedung serba guna– hingga jam sepuluh malam. Namun acara masih berlanjut hingga pukul 12 tengah malam dengan music performances oleh DJ Keke (The Secret Agents), Racun Kota, Rharharha, DJ Adder, Jalan Surabaya (DJ Danger Dope with MC Billal), dan VJ Ijul.
– Asep Topan, alumnus IKJ – lulusan segar dan tekun menulis soal pameran seni rupa
PRESS RELEASE!

presents:
OK. Video FLESH
5th Jakarta International Video Festival
6 – 17 October 2011
www.okvideofestival.org
Featuring more than 150 video works from more than 130 artists from 30 countries as well as 6 compilation programs and collaboration with more than 15 partners
Opening:
Thursday, 6 October 2011 / 19.30
GaleriNasional Indonesia
Jl. Medan MerdekaTimur 14
Jakarta Pusat
MC: Nastasha Abigail & oomleo
With Visual Mapping by Flicker Screen & Ricky “Baybay” Janitra
and also music performances by DJ Keke, Racun Kota, DJ Adder, Jalan Surabaya (DJ Danger Dope with MC Billal), and VJ Ijul.
Festival:
7 – 17 October 2011 / 11.00 – 21.00
GaleriNasional Indonesia
Jl. Medan MerdekaTimur 14
Jakarta Pusat
Curators: Hafiz, Agung Hujatnikajennong, Farah Wardani, MahardhikaYudha & RizkiLazuardi
Artists: Alexander Kluge, Apichatpong Weerasethakul, Araya Rasdjarmrearnsook, Henry Foundation, Joan Jonas, LC Von Sukmeister, Marina Abramovic, Maulana M Pasha, Melati Suryodarmo, Reinaart Vanhoe, Reza Afisina, Sebastian Diaz Morales, Stelarc, Tintin Wulia, Vito Acconci, and many more.
(Further information: http://news.okvideofestival.org/artists)
Countries: South Africa, USA, Argentina, Australia, Austria, The Netherlands, Belgium, China, Denmark, Hungary, Indonesia, UK, Ireland, Israel, Italy, Japan, Germany, Canada, Colombia, Lebanon, Norway, France, Puerto Rico, Serbia, Slovenia, Spain, Sweden, Switzerland, Thailand, Venezuela.
This year’s Jakarta International Video Festival chooses FLESH as its theme. OK. Video FLESH perceives flesh as a metaphor of biological entity of human body that transforms into digital entity (images, sounds, and texts) through the advancement of audiovisual technology. It also represents video which increasingly has shown its organic characters: grows in virtual spaces across spatial and temporal boundaries, transforms into various medium and progressively reproduces itself due to its virality. These phenomena have been celebrated by the contemporary society within the last decades through rapid evolution in communication and information technology.
The festival invites the public to discuss various questions: to what extend does this kind of new flesh interacts with social, political and cultural aspects? Are we really celebrating democracy or is it just another virtual euphoria? How the intersections between private and public domain continuously expanded and shifted? How do social and power structures cope with these changes? Thus, what are the consequences in relation to the discourse between history, tradition, religion, urban and rural culture, popular culture, mass media, sexuality, identity and violence? OK. Video placed these phenomena as a means to critically celebrate, read and interpret our environments. OK. Video FLESH uses four perspectives as its curatorial approach. These four special presentations represent specific ideas which will be presented at Galeri Nasional Indonesia:
- Face-Dominated (curated by: Hafiz)
- [in]corporeal (curated by: Agung Hujatnikajennong)
- Digital Viral (curated by: Farah Wardani)
- Surveillance & Self Portrait (curated by: MahardikaYudha & RizkiLazuardi).
Other accompanying programs:
- International Competition which opens opportunity for artists, students and wider masses to submit their video works.
(further information: http://news.okvideofestival.org/2011/09/full-shortlist-videos) - Video Out, to expand the network and promote young video artists, OK. Video invites several galleries and alternative spaces in Jakarta as partners; RURU Gallery, Institut Français Indonesia, Japan Foundation, d Gallery, CG Artspace, dia.lo.gue Artspace, Kineforum, Linggar Seni, Vivi Yip Art Room, Artsphere.
(further information: http://news.okvideofestival.org/video-out) - Public Programs, to foster public awareness in video art, OK. Video always organize educative programs for wider participants.
(further information: http://news.okvideofestival.org/public-program)
This event will last for 30 days starting from 29 September – 29 October 2011 at Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, as its main venue and partners’ locations spreading all over the the city of Jakarta.
*** For more details about OK.Video please visit okvideofestival.org and follow us on twitter.com/OK_Video. Please also visit ruangrupa.org, join our group on Facebook, and follow ruangrupa on twitter.com/ruangrupa.
—
Jakarta International Video Festival yang ke-5, memilih DAGING (“Flesh”) sebagai tema festival kali ini. OK. Video FLESH melihat “daging” sebagai metafora dari entitas biologis tubuh manusia yang berubah menjadi entitas digital (citraan, suara, teks) melalui perkembangan teknologi audiovisual. Ia juga merepresentasikan video yang semakin memperlihatkan sifat-sifat organik: tumbuh dan berkembang di dalam ruang virtual yang melampaui batas spasial dan temporal, bertransformasi ke dalam berbagai medium, dan terus-menerus bereproduksi karena sifatnya yang viral.Fenomena ini terus dirayakan oleh masyarakat dalam beberapa tahun terakhir melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Festival ini mengajak siapapun untuk sama-sama merefleksikan berbagai pertanyaan: sejauh mana video dalam sifatnya yang organik bersinggungan dengan aspek sosial, politik, dan budaya kontemporer? Apakah masyarakat sedang betul-betul merayakan demokrasi atau sekadar ilusi virtual?, bagaimana persilangan antara yang privat dan yang publik terus bergerak dan berkembang?, bagaimana sistem sosial dan kekuasaan berhadapan dengan perubahan?, konsekuensi apa yang kemudian terjadi dalam kaitannya dengan isu sejarah, tradisi, agama, budaya urban dan rural, budaya populer, media massa, seksualitas, identitas, bahkan kekerasan? OK. Video menempatkan fenomena tersebut sebagai kemungkinan yang hadir untuk dirayakan, dibaca dan dimaknai secara kritis. OK. Video FLESH menggunakan empat buah sudut pandang sebagai pendekatan. Keempat aspek ini mewakili gagasan yang spesifik dan dihadirkan di Galeri Nasional Indonesia:
- Face Dominated (kurator: Hafiz)
- [in]corporeal (kurator: Agung Hujatnikajennong)
- Digital Viral (kurator: Farah Wardani)
- Surveillance & Self Portrait (kurator: MahardikaYudha & RizkiLazuardi).
Selain keempat sesi pameran tersebut, ada juga program:
- Kompetisi Internasional yang membuka kesempatan bagi seniman, mahasiswa, dan masyarakat luas untuk mengirimkan karya videonya.
(info lebih lanjut: http://news.okvideofestival.org/2011/09/full-shortlist-videos) - Video Out, untuk memperluas jaringan dan mempromosikan seniman-seniman muda, OK. Video melibatkan galeri-galeri dan ruang-ruang alternatif di Jakarta sebagai rekan seperti: RURU Gallery, Institut Français Indonesia, Japan Foundation, d Gallery, CG Artspace, dia.lo.gue Artspace, Kineforum, Linggar Seni, Vivi Yip Art Room, Artsphere.
(info lebihlanjut: http://news.okvideofestival.org/video-out) - Program Publik, dalam rangka mengajak masyarakat yang lebih luas, OK. Video selalu mengadakan program-program acara untuk dinikmati oleh banyak orang.
(info lebih lanjut: http://news.okvideofestival.org/public-program)
Acara ini akan berlangsung selama 30 hari dari 29 September – 29 Oktober 2011 dengan lokasi utama di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat dan lokasi-lokasi partner yang tersebar di berbagai penjuru kota Jakarta.
VIDEO OUT: THE NEW GENERATION OF INDONESIAN VIDEO ARTISTS
To expand the networks and audience, OK. Video festival involves several gallery and art spaces in Jakarta as the partners. With this collaboration, the festival is trying to build the connection in developing new media art in Indonesia as well as in international domain.
ruangrupa and CG Artspace
proudly presents
The New Generation of Indonesian Video Artists
Curator: Hafiz
at CG Artspace
Plaza Indonesia Lt. 3 No. E16
Jl. MH Thamrin kav 28-30
on 1 – 10 October | 10:00 – 21:00
Artist Talk: 1 October | 16:00 | With: Hafiz, Maulana M. Pasha, Mahardhika Yudha, Otty Widasari, Bagasworo Aryaningtyas, Yusuf Ismail
Video Out: FOCUS ON HENRY FOUNDATION, REZA AFISINA, WIMO AMBALA BAYANG
To expand the networks and audience, OK. Video festival involves several gallery and art spaces in Jakarta as the partners. With this collaboration, the festival is trying to build the connection in developing new media art in Indonesia as well as in international domain.
ruangrupa and dia.lo.gue Artspace
proudly presents
Focus on Henry Foundation, Reza Afisina, Wimo Ambala Bayang
Curator: Ade Darmawan
at dia.lo.gue Artspace
Jl. Kemang Selatan 99a
on 29 Sept – 15 Oct | 10:00 – 18:00
Opening: Thursday, 29 September | 19:30
Video Talk: 2 October | 15:00 | With: Ade Darmawan & Hafiz






